Suasana HUT 70 jaman dulu banget, HUT ke-1 & ke-3. Ada saat SMA 70 belum punya pagar.
September 3, 2007
August 25, 2007
August 24, 2007
Sisgahana 96
Sisgahana angkatan 96 (Agresor) sedang berpose di Pulau Damar. Sedangkan gambar kedua diambil pada tahun 2005 sesaat sebelum pemberangkatan casis untuk PDGH (Pendidikan Dasar Gunung dan Hutan).
August 17, 2007
Pos PMR
Pos PMR terletak di bawah laboratorium ex SMA 11 atau di belakang laboratorium ex SMA 9, satu garis sejajar dengan tembok pemisah. Saat ini bangunan tsb sudah musnah tanpa bekas. Ruangan tsb sebagai pos kegiatan PMR sekaligus untuk perawatan sementara siswa yg sedang sakit, walaupun terkadang dimanfaatkan oleh siswa yang pura-pura sakit. Tampak dalam foto adalah anggota PMR angkatan 84 & 85. Berdiri paling kiri adalah Ati Saraswati (ketua OSIS) dan jongkok berkaca-mata memegang gambar adalah Ferdy Armansyah (ketua PMR).
Sedangkan gambar di bawah ini adalah anggota PMR angkatan 91 setelah selesai mengikuti upacara pengukuhan tanda B, berpose di lapangan basket utara. Angkatan ini dijuluki "Setan Pos" karena mereka lebih sering berada di Pos PMR daripada berada di rumahnya sendiri, bahkan pada hari libur sekalipun.
Perkemahan Karana Bhakti I tahun 1983 di Pujon, Malang
Perkemahan Karana Bhakti I (PKB I) merupakan kegiatan terpadu pertama sejak berdirinya SMA 70. Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari 3 organisasi di bawah OSIS, yaitu Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR) dan Seksi Karya Ilmiah Remaja (SKIR).
Lokasi yang dipilih adalah Coban Rondo, Pujon, Malang, Jawa Timur. Kegiatan PKB I meliputi Bhakti Sosial, Penelitian dan kegiatan masing-masing organisasi. Juga merupakan suatu kebetulan bahwa saat itu terjadi gerhana matahari total yang terjadi secara sempurna di Tanjung Kodok.
Yang patut dicatat, saat keberangkatan para siswi menggunakan pesawat terbang ke Surabaya dan dilanjutkan dengan naik truk tronton ke Pujon. Sedangkan para siswa tetap menggunakan kereta api. Saat pulang semua siswa-siswi menggunakan kereta api, dan malam itu adalah awal bulan puasa, sehingga siswa muslim melaksanakan saur bersama di kereta. Karena bantuan beberapa orang-tua siswa yang cukup berpengaruh, Bpk. Kadarusman & Jend. Poniman, maka tidak ada biaya sama sekali untuk penggunaan pesawat terbang (transmigrasi) dan truk tronton (angkatan darat).


